01 Juli 2010

Terbuka, Pragmatis, atau Konsepsi?

Terius Yigi Balom, 32 tahun, mengenal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pertama kali dari media massa. Putra seorang pendeta itu rajin memantau aksi sosial yang kerap dilakukan kader PKS, seperti penanggulangan bencana alam. Ia pun mulai membandingkan aktivitas PKS itu dengan partai lainnya, baik yang nasionalis maupun yang berasaskan agama. "Mereka memang berperan paling kongkret dibandingkan dengan partai lainnya," begitu kesimpulan Terius, seperti disampaikan kepada Gatra.

Ia menilai PKS konsisten melaksanakan aksi-aksi sosial tanpa tergantung momen politik tertentu, seperti pemilihan kepala daerah (pilkada). "Maka itu saya tertarik," kata Terius. Ia lantas bertekad untuk bergabung dengan PKS. Namun status PKS sebagai partai dakwah dengan asas Islam sempat membuat ia ragu. Terius pun sempat bergabung dengan partai lain yang berasaskan nasionalis. Tapi, tak lama kemudian, ia hengkang dan bergabung dengan PKS.

Terius terkejut ketika diterima dengan tangan terbuka, meski beragama Kristen. "PKS mampu mengejawantahkan prinsip toleransi antarumat beragama, meski konsisten dengan asas Islam dan dakwah," kata pengurus DPD PKS Kabupaten Lanny Jaya, Papua, itu. Ia mengaku tidak ada paksaan untuk pindah agama ataupun sikap curiga dari kader yang muslim.

Setelah beberapa lama bergabung, ia juga mulai terbiasa dengan rutinitas kegiatan di PKS yang bernuansa Islami. Pada saat perayaan Idul Fitri, misalnya, kader-kader non-muslim tanpa canggung ikut membantu merayakan dan saling mengucapkan selamat. Tak hanya ucapan selamat, spanduk pun ia buat untuk ungkapan saling menghormati. Begitu pula ketika kader muslim merayakan Idul Adha, Terius mengaku ikut menyumbang hewan kurban, seperti sapi dan kambing.

Sebaliknya, ketika ada perayaan hari raya kaum Nasrani, kader muslim tidak melarang kaum Nasrani memotong babi. Meski babi haram bagi umat Islam, para kader PKS non-muslim tidak dihalangi untuk menyembelihnya dalam perayaan agama, pesta adat, acara duka, atau acara pemilu untuk disajikan kepada penduduk yang juga beragama Kristen. "Sinyal keterbukaan seperti inilah yang menarik massa non-muslim lebih banyak lagi untuk bergabung dan memilih PKS," tutur Terius.

Hal serupa dialami Maximus Taek, 45 tahun, seorang penganut Katolik. Politikus asal Nusa Tenggara Timur itu tadinya adalah kader sebuah partai berhaluan nasionalis. Hanya saja, ia merasa tak sreg berkecimpung di partai tersebut. "Kepentingan kelompok lebih besar, bahkan mengalahkan AD/ART partai," katanya kepada Gatra. Belum lagi, partai itu sangat bergantung pada satu figur. "Seolah-olah figur itu adalah segalanya," ia menambahkan.

Akhirnya, pada 2008, Maximus bergabung dengan PKS. Salah satu alasan ia memilih PKS: tak ada figur status quo yang mengendalikan partai secara otoriter. Apalagi, kata Maximus, sebagai partai dakwah, PKS selalu mengajak orang lain tanpa memandang latar belakang sosial, politik, dan agama untuk menuju kebaikan. "Dari situ mulai muncul ketertarikan saya," ungkapnya.

***

Sejak 1999, PKS membuka diri bagi masuknya kader-kader non-muslim. Menurut Ketua Majelis Syura PKS, KH Hilmi Aminuddin, keterbukaan itu adalah bagian dari pelaksanaan ajaran Islam. "Menjadi partai terbuka itu bukan taktik dan bukan strategi, melainkan justru muncul dari keimanan atas ajaran Islam," katanya kepada Haris Firdaus dari *Gatra*.

Menurut Hilmi, Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk menerima pluralitas atau kemajemukan. "Allah menciptakan semua secara plural. Tidak ada keseragaman. Yang ada adalah keberagaman," ujarnya. Keberagaman itu mendorong terjadinya dinamika kehidupan. Jika pada tahap awal PKS terkesan eksklusif, menurut Hilmi, karena pada saat itu PKS masih harus membangun identitas dan integritas kadernya.

Masuknya orang-orang non-muslim dalam kepengurusan PKS bermula dari banyaknya orang non-muslim yang datang ke kantor dewan pengurus wilayah PKS di daerah yang mayoritas penduduknya non-muslim. Mereka mengajukan ide mendirikan kepengurusan di level kabupaten dan kota. "Kami bilang, PKS adalah partai Islam. Tapi mereka tidak mempermasalahkan agama. Yang penting, agendanya sesuai dengan aspirasi mereka," kata Hilmi. Akhirnya kepengurusan daerah dibentuk oleh orang-orang non-muslim secara mandiri dan disahkan.

Sejak itulah PKS menerima kader dari kalangan non-muslim. Hal ini, menurut Hilmi, adalah bagian dari proses penyiapan kader PKS menjadi pemimpin negara. Untuk itu, pertama mereka harus bisa menjadi tokoh Islam, kemudian pemimpin dakwah, lalu menjadi tokoh bangsa, dan akhirnya negarawan. "Masuknya non-muslim bisa membantu kader-kader PKS yang akan menjadi negarawan untuk bisa berkomunikasi dan bekerja sama dengan banyak kalangan
di luar Islam," tutur Hilmi.

Bahkan, dari proses itu, PKS bisa menjalin hubungan dengan partai yang berhaluan non-Islam di negara lain. "Sekarang ini PKS punya hubungan dengan Partai Buruh Australia, Partai Komunis Cina, dan partai-partai di Eropa," katanya. Keterbukaan ini, lanjutnya, tidak akan mengganggu identitas PKS sebagai partai Islam. "Kalau ditanya siapa PKS? Ya, partai Islam," Hilmi menegaskan.

***

Hingga saat ini, PKS memiliki ribuan kader non-muslim. Posisi mereka pun bukan sekadar figuran. Selain ada yang menjadi pengurus aktif di tingkat daerah, kini ada 26 kader non-muslim di PKS yang menjadi anggota DPRD. Menurut Sekjen PKS, Anis Matta, masuknya kader non-muslim sebagai anggota DPRD terjadi sejak 2004. Natalis Kamo dan Jimmi Gerung, misalnya, adalah dua kader pertama non-muslim PKS yang berhasil menjadi anggota DPRD di Papua.

Untuk mengakomodasi keberadaan mereka, dalam musyawarah nasional yang berlangsung Sabtu-Minggu lalu, PKS memutuskan mengubah AD/ART partai dan secara resmi menerima anggota dari kalangan non-muslim. "Faktanya, masuknya anggota non-muslim ini kan mendahului konstitusi," kata Anis Matta kepada *Gatra*.

Resminya PKS menjadi partai terbuka itu membawa optimisme bagi Terius Yigi Balom dan Maximus Taek. Terius berharap, ada peluang bagi kader non-muslim menjadi pengurus pusat. Maximus juga yakin, dengan keterbukaan ini, PKS akan menjadi partai besar. Anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara itu pun yakin, PKS bisa lebih diterima di wilayah Indonesia Timur.

Pengamat politik Bachtiar Effendi menyambut baik penegasan sikap terbuka PKS itu. Strategi itu, kata Bachtiar, seperti mengadopsi nilai kehidupan yang semakin maju. Namun langkah membuka diri ini harus tetap dijalankan dengan baik. "Ideologi dan nilai dasar PKS tidak akan ditinggalkan," katanya kepada Eko Rusdianto dari *Gatra*.

Ia berharap, PKS tidak menjadi partai pragmatis. "Beberapa kader mulai menjalankan kepentingan pragmatis," ujarnya. Ini akan berbahaya bagi PKS yang selama ini dikenal sebagai partai yang mementingkan pelayanan publik.

Ia pun berharap, PKS tidak kehilangan warna Islam sebagai landasan. "Kader non-Islam nantinya memegang ideologi partai dengan keterbukaan itu, bukan patuh pada nilai keagamaan partai," tuturnya.

Jika itu bisa diwujudkan, Bachtiar yakin, PKS akan menjadi lebih baik. Buktinya, dalam tiga pemilu terakhir, suara PKS menunjukkan grafik naik. Jika awalnya hanya tujuh kursi, pada pemilu berikutnya naik menjadi 45, dan pemilu terakhir 57 kursi. "Ini cukup baik. Banyak partai yang baik tapi dukungan kurang. Jadi, PKS harus menjaga itu," ujar Bachtiar.

*M. Agung Riyadi dan Sandika Prihatnala*
[*Nasional*, *Gatra* Nomor 34 Beredar Kamis, 24 Juni 2010]

17 Juni 2010

●● AKU RINDU ZAMAN ITU ●●

Aku rindu zaman itu, ketika halaqoh adalah kebutuhan bukan sekedar sambilan apalagi hiburan.

Aku rindu zaman itu, ketika membina adalah kewajiban bukan pilihan apalagi beban dan paksaan.

Aku rindu zaman itu, ketika dauroh menjadi kebiasaan bukan sekedar pelengkap pengisi program acara yang dipaksakan.

Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan bukan keraguan apalagi kecurigaan.

Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan bukan tuntutan apalagi hujatan.

Aku rindu ketika zaman nasihat menjadi kesenangan bukan su’udzhon atau menjatuhkan.

Aku rindu zaman ketika nasyid ghuroba menjadi lagu kebanggaan.

Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh dengan ongkos ngepas dan alamat tak jelas.

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh da’wah di desa sebelah.

Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infaq, alat tulis buku catatan serta Al qur’an terjemahan, ditambah sepenggal hapalan.

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya.

Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis ketika tdk dapat menghadiri liqo.

Aku rindu zaman ketika seorang murabbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya.

Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini.

Aku rindu zaman itu.

Aku rindu ….

Ya Allah jangan kau buang kenikmatan berda’wah dari qolbu-qolbu kami,
Dan jangan Engkau jadikan hidup kami ini hanya berjalan di tempat yang sama.

Ya Allah.
Tarbiyah bukanlah segala-galanya
Tetapi segala-galanya berawal dari tarbiyah!

Da’wah tidak membutuhkan kita
Tetapi kitalah yang membutuhkan da’wah!

=============================================
Kiriman seorang sahabat seperjuangan, semoga Allah merahmatinya.
Salam tuk semua sahabat seperjuangan di bumi Allah.
Semoga Allah tetap menjaga keikhlasan kita dan memelihara ghirah di dada kita dalam menegakkan izzatul islam wal mu’minin.

sumber: moeja.multiply.com
-

11 Mei 2010

Liputan RAT KJKS Madani Jaya

LIPUTAN RAPAT ANGGOTA TAHUNAN (RAT)
KOPERASI JASA KEUANGAN SYARIAH (KJKS) MADANI JAYA

Digelar di Mushola Asyura Depok Maharaja pada hari Ahad, 9 Mei 2010, RAT KJKS Madani Jaya berjalan lancar dan sukses. Ketua Panitia RAT, Arbain Nur Bawono dalam sambutannya mengatakan bahwa RAT kali ini adalah yang ke-2 sejak berdirinya di tahun 2008.
KJKS Madani Jaya adalah koperasi yang pada awal pendiriannya ditujukan untuk bermitra dengan pemerintah pusat pada tahun 2008 dalam program Perempuan Keluarga Sejahtera (Perkasa), namun karena program tersebut tidak terlaksana, koperasi ini menjalankan usahanya dalam bidang konsumsi. “koperasi untuk sementara ini berusaha memenuhi kebutuhan sembako para anggotanya yang berlokasi di kelurahan Rangkepanjaya dan sekitarnya”, ujar H. Ali Rasyid, manager KJKS Madani Jaya.
Sementara Pj. Ketua KJKS Madani Jaya, Muhammad Syahrir memberikan penjelasan tentang keanggotaan koperasi, “ keanggotaan koperasi bersifat terbuka, dan sudah mulai berkembang, awalnya hanya 12 orang, Alhamdulillah sekarang sudah 17 orang” ujarnya.
RAT kali ini mengagendakan Laporan Pertanggungjawaban dari pengurus periode 2008-2010 dan pemilihan pengurus baru. Hasil musyawarah dalam RAT ini menghasilan Kepengurusan periode 2010-2012 dengan susunan sebagai berikut:
Badan Pengurus Harian
Ketua : Sutan Maruf, S.E.
Sekretaris : Arbain Nur Bawono, S.T.
Bendahara : Muhammad Syahrir, S.E., Ak. M.Si
Dewan Syariah
Ketua : Ridwan Abdullah, Lc
Anggota :
  1. Rambat Lupiyoadi, S.E., M.Si
  2. Sophan Hidayat, S.T
“koperasi ini akan meneruskan program kepengurusan tahun sebelumnya, disamping akan terus berusaha berinovasi untuk mencari program baru yang bermanfaat bagi anggotanya” ujar Tosirin dalam sambutan perdananya.
“kami optimis koperasi ini akan terus bertambah jumlah keanggotaannya” ujarnya kemudian.
Semoga terus maju dan jaya KJKS Madani Jaya
(tos).

07 April 2010

Lima Bulan Menjelang Pernikahan, Membawanya ke Islam

Lima Bulan Menjelang Pernikahan, Membawanya ke Islam

Selasa, 06/04/2010 15:10 WIB

Lima bulan sebelum hari pernikahannya, Karen Meek shock mendengar pengakuan Eric, tunangannya. Eric mengatakan bahwa ia sudah menjadi seorang Muslim. Pengakuan itu bagai petir di siang bolong buat Karen yang seperti warga Rusia lainnya, tidak menganut agama apapun alias ateis.

"Saya pikir ia (Eric) sudah mengalami cuci otak. Tiba-tiba saja ia berhenti minum minuman beralkohol. Ia salat lima waktu sehari dan tidak mau lagi makan daging babi," cerita Karen tentang perubahan perilaku tunangannya.

Sementara Eric, yang semula penganut Kristen Baptis, tapi kemudian menjadi seorang atheis, selama berbulan-bulan mempelajari Islam tanpa memberitahu Karen, hingga akhirnya ia memutuskan menjadi seorang Muslim.

Meski shock Karen tetap ingin melanjutkan rencana pernikahannya dengan Eric. Karen lalu mencari berbagai referensi, mulai dari buku sampai video tentang Islam, untuk memahami agama baru yang dianut calon suaminya. Tapi ia sama sekali tidak berharap akan masuk Islam.

"Saya tumbuh dewasa dengan pola pikir bahwa agama adalah sesuatu yang bodoh. Saya tidak percaya adanya Tuhan. Saya tidak memikirkan bagaimana dunia ini diciptakan, dan terus terang, saya tidak peduli," ujar Karen.

Namun Karen mengakui bahwa agama Islam memberikan penjelasan paling logis tentang Tuhan dan penciptaan alam semesta dan sulit bagi Karen membantahnya.

Karen akhirnya menikah dengan Eric. Ia masih terus mempelajari Islam dan untuk pertamakalinya ia mencoba menunaikan salat, saat suaminya bekerja di kantor. Ia belajar salat sendiri dari sebuah buku.

"Sampai pada titik ini, saya melakukan segala sesuatunya dengan diam-diam. Saya tidak cerita pada Eric. Saya tidak mau memeluk agama hanya karena suami saya memeluk sebuah agama. Saya ingin menemukan jalan saya sendiri," ungkap Karen.

"Karena berlatar belakang atheis, saya lebih mudah menerima Islam dibandingkan seorang Kristiani, karena dalam hal ini saya tidak perlu melepas agama apapun," sambungnya.

Karen dan suaminya mulai sering melakukan pertemuan dengan komunitas Muslim untuk belajar Al-Quran. Hingga akhirnya, Karen membulatkan tekad untuk mengikuti jejak suaminya memeluk agama Islam. Karen pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah.

Tapi pilihan Karen membuat orang tuanya kaget. "Suatu hari, ia datang dengan mengenakan gaun panjang dan jilbab. Saya terkejut dibuatnya," kata ayah Karen, Ray Alfred.

Alfred mengaku merasa asing melihat anak perempuannya ketika itu dan ia merasa khawatir dengan keselamatan Karen saat terjadi serangan 11 September 2001 di AS.

"Anda ingin mencintai anak Anda, tapi ketika mereka melakukan sesuatu yang asing bagi Anda. Hal ini sangat sulit," ujar Alfred, "Saya akan memberikan apa saja asalkan ia tidak memeluk agama itu (Islam)."

Ibu Karen mengungkapkan komentar serupa, yang terus terang mengatakan bahwa ia tidak suka dengan jilbab yang digunakan puterinya. "Karen adalah seorang gadis cantik dengan rambut yang indah," kata Jane Barret.

Karen memahami kegundahan kedua orang tuanya mendengar ia sudah menjadi seorang muslimah dan mengenakan busana muslim. Karena sendiri mengaku butuh waktu berbulan-bulan sebelum ia memutuskan untuk berjilbab.

"Saya hanya memakai jilbab jika pergi ke tempat-tempat yang saya rasa tidak akan ada orang yang mengenal saya," ujar Karen sambil tertawa.

Tapi sekarang, Karen selalu mengenakan jilbab kemanapun ia pergi, termasuk ke tempat kerjanya dimana ia bekerja sebagai staf akuntan di sebuah jaringan restoran.

Karen mengatakan, memeluk Islam telah membuatnya melihat kehidupan dengan cara pandang yang baru. "Dari seorang yang tidak percaya Tuhan menjadi orang yang percaya Tuhan, rasanya sungguh luar biasa. Islam membuka mata saya terhadap banyak hal yang selama ini saya abaikan. Terutama, bahwa kehidupan adalah sebuah karunia," tukas Karen menutup kisahnya. (ln/MCC)

sumber: www.eramuslim.com