17 Maret 2013
05 Maret 2013
Pertarungan PKS di Media Massa
by: Arif “godate” | Kompasiana
Kalian tahu bagaimana sebuah berita itu terbit? Semuanya melalui penyutradaraan. Mendesain skenario, memilih ending cerita, menyusun dialog, menentukan aktor danterakhir memblowupnya dengan menggunakan tangan – tangan institusi yang berkepentingan. Terlihat sempurna? Tidak! Karena mereka tidak berusaha lebih jauh lagi. Karena masuk lebih kedalam adalah hal yang paling sulit dan rumit. Tapi setidaknya sudah menimbulkan kegaduhan, karena peluang bisnisnya ada di sana.
Di awal cerita, situasi mulai berkembang, sutradara berharap sesuai dengan skenarionya, semua aktor menjalankan perannya dengan baik tanpa cacat. Respon masyarakat akan terbelah dan lebih banyak menunggu tercerita merespon balik. Tapi bagaimana jika ia tidak merespon balik. Skenario kedua akan di jalankan. Terus menerus memberikan informasi dan menyebarkan isu – isu dengan mengerakkan semua mesin yang ada, salah satunya mesin informasi di internet.
Katakanlah kalau si tercerita merespon balik, apa yang akan terjadi? Rancangan cerita ini akan menjadi sempurna dan membawa efek “kerusakan” lebih luas. Kepada siapa?Tentunya kepada kedua belah pihak, tapi resiko dan harga yang di bayar lebih banyak di tanggung oleh si tercerita. Melawan kecerdikan dan siasat tentu saja di lawan dengan tipu muslihat. Dalam konteks “pertarungan politik” antara Tempo dan PKS + Aher, Tempo takkan menang dan lebih cerdik dari pada PKS dalam hal membuat sebuah berita.
Jika Tempo memiliki ahli dalam bidang sinematografi, akting, dan penulisan cerita, sedangkan PKS memiliki lebih dari itu semua, PKS punya cerita, mesin politik, media dan banyak lainnya. Siapa yang di kirimkan oleh PKS menghadapi politik pragmatis Tempo?Sang aktor politik terbaik, yaitu Anis Matta. Cukup Anis Matta melakukan penyataan politik, semua mata akan memandang kepada politisi muda ini, dan lagi – lagi cerita akan berganti, fokus tema akan beralih dan semua pengamat mencoba menerjemahkan apa dan makna pernyataan Anis, lalu skenario cerita Tempo akan kembali di recyle setelah masuk ke dalam tong sampah.
Jika Tempo harus menghabiskan resourcenya untuk melakukan investigasi dan menginvestasikan uangnya untuk mencetak ribuan majalah dan membayar aktor – aktoruntuk mengangkat isu yang di bawanya. Anis Matta dengan sangat cerdik dan piawai memanfaatkan media massa secara gratis untuk menjalankan taktik dan siasatnya dan mengubah keadaan seperti yang di skenariokan oleh PKS. Dalam hal kecerdikan dan siasat, PKS masih berjalan di depan dan melihat dari spion bagaimana Tempo terus mengejarnya.
Bagaimana dengan akhir cerita Tempo dan PKS? “Penonton suka dengan cerita yang happy ending”. Lalu siapa yang bahagia? Akankah pelaku “kebenaran” “Sang pewarta berita” atau Pelaku politik”? lalu siapakah yang akan menang dan apakah yang menang selalu benar? Kalau di dalam film Hollywood begitu juga yang di buat oleh SinemaArt“Penjahat tidak boleh menang. Itu dongeng moralitas” .
Tapi cerita ini berbeda. Dalam konteks politik, cerita ini takkan pernah berakhir, tidak adahappy ending semuanya akan berganti part, dan pertarungan takkan pernah usai. Melihat skema berita politik kita membutuhkan pendalaman dan pengamatan yang komprehensif. Memahami di balik motif dan membaca cerita dengan berulang – ulang dan menemukan kejanggalan cerita. Ini membutuhkan waktu dan kesabaran. Cerita terbaik sekali pun mempunyai kelemahan. Dan itu bisa di temukan dengan melihatnya berkali – kali. karena poltik lebih misterius dan sulit di pahami dari serial novel Agatha Cristie.
“Siapa Kau … ?”
“Aku tak bisa katakan.”
“Siapa Kau … ?”
“Dia akan “membunuhku jika Ia tahu.”
“Kau meminta kepercayaan dariku tanpa memberiku kepercayaan.”
“Kau membawaku kedalam urusan berbahaya, dan aku berhak tahu siapa yang memanfaatkanmu?”
“Siapa kau …?”
“Aku Reporter … seorang Jurnaslis”
“Bukan, kau seorang politikus, yang bersarang di media!”
Pengelabuan dan teknik penyesatan
Di dalam sebuah berita ada cerita – cerita yang sengaja di ciptakan. Tujuannya dalam rangka pengelabuan, pengelabuan terhadap tujuan – tujuan pokok, yaitu kepentingan taktis dan strategis dari tujuan berita itu di sebarkan. Dengan prinsip jurnalisme dan kebebasan berbicara, teknik pengelabuan ini bertujuan melakukan penyesatan dan juga mengiring sebuah opini.
Penyesatan melalui data – data, argumentasi – argumentasi, tabel – tabel dan juga sumber – sumber lainnya. Yang dilihat oleh mata, di dengar oleh telinga, bertujuan memanipulasi dan di percayai pikiran. Skema berikutnya, menciptakan “kebenaran” tapi di satu sisi danmenciptakan “kerusakan” dan “kekacauan” pikiran, bertujuan menempelkan stigma – stigma negatif dan disambut dengan olok – olokan khas politik.
Di pertengahan jalan, sang sutradara tinggal menyaksikan semua skenario berjalan sesuai dengan di harapkannya. Aktor – aktor baru bermunculan dan cerita semakin berkembang. Tipu daya yang paling bahaya dalam dunia jurnalistik yang di kendalikan aktor politik yang memainkan perannya sebagai pewarta berita. “Apa yang di lihat oleh mata, apa yang di dengar oleh telinga, kemudian di percayai pikiran”.
Ini Sinetron! Bukan panggung Politik?
Berita dalam konteks politik tidak seperti hitam dan putihnya kebenaran itu sendiri. Mitos dualitas terbesar di dunia yang sampai detik ini masih di ekspresikan dalam berbagai bentukyang tidak berlaku dalam berita politik. Walau pun pewarta berita mengklaim apa yang di beritakannya sudah dalam standar jurnalisme.
Menonton sinetron tidak membutuhkan pengamatan yang panjang dan dalam. Bukan karena kita terlalu pintar, tapi karena alur ceritanya yang mudah di tebak dan memang dibuat untuk melepas ketegangan, makanya acara sinetron lebih banyak di putar selepas jam 7 keatas, kecuali TV One dan Metro TV yang banyak mengulas drama politik.
Menonton berita politik akhir – akhir ini pun tidak berbeda jauh dari alur cerita sinetron, beritanya silih berganti. Hari ini, partai A besok aktor politik B. Belum tuntas membahas kasus A tiba – tiba berganti kasus B. Sampai nanti telah di ujung kasus Z, tiba – tiba kasus kembali ke A . siapa yang paling di untungkan dalam hal ini, tentu saja media dan keuntunganialah ekonomi.
Share terbesarnya masih di ambil harian koran, kedua televisi. Lalu di mana posisi penjualanmajalah saat ini? Masih di paling bawah dalam market share. Tapi tentu saja peluang bisnis ini harus dikejar demi menaikkan income profit perusahaan dan juga positioning brand. Bohong besar kalau mereka mengatakan ini demi kebenaran, dalam konteks politik tepatnya mungkin “Kebeneran nih!”
Idealisme jurnalisme memang menarik, di bangku kuliah menjadi diskusi yang hangat, terbuka dan penuh dengan antuasisme. Tapi di dunia kerja, industri media tetapberorientasi mengumpulkan uang sebanyak – banyaknya dengan segala siasat dan cara. Idealisme tak lebih dari konsepsi utopis ketika berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar, yaitu korporasi media, sang gurita yang mengendalikan berita.
Pemilik korporasi media memandang “kebenaran” adalah permainan yang sangat menarik untuk “memukul” “menyandera” dan akhirnya “menghukum” musuh politiknya. Di akhir cerita kebenaran sejati kembali ke tempat asalnya dan termenung dalam kesunyian di dalam hati para wartawan yang masih berlari – lari dilapangan, masih dengan motor bututnya, memandang realitas dan kebenaran versi media yang jatuh dari realitas, apakah ia akan berontak? nuraninya diam dalam kesunyian. Karena ia sadar anak istrinya membutuhkan makan dan lain – lannya. Idealisme masih hidup di dalam hati para wartawan seperti cahaya lilin yang tertiup angin malam, menerangi walau pun samar – samar.
Oya, jika kau tetap tak mengerti semua ini, itu karena kau tidak mendengarkannya.
15 Februari 2013
Kata Terurai Jadi Laku
Oleh : Ust.Muhammad Anis Matta, Lc
Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya
tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia
percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu
sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia
segera kembali pada tekatnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan
mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.
Suatu saat perempuan itu berkata padanya, " Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri." Tapi lelaki itu malah menjawab, " Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi."
Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka kemudian dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini kepadanya. Lelaki itu menjawab enteng, " Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."
Begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati, terkembang dalam kata, terurai dalam laku. Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata. Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.
Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pencinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dihasilkan oleh perasaan cinta itu. Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.
Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi harus begitulah cinta, seperti kata Imam Syafii;
Suatu saat perempuan itu berkata padanya, " Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri." Tapi lelaki itu malah menjawab, " Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi."
Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka kemudian dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini kepadanya. Lelaki itu menjawab enteng, " Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."
Begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati, terkembang dalam kata, terurai dalam laku. Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata. Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.
Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pencinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dihasilkan oleh perasaan cinta itu. Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.
Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi harus begitulah cinta, seperti kata Imam Syafii;
Kalau sudah pasti ada cinta di sisimu
Semua kan jadi enteng
Dan semua yang ada di atas tanah
Hanyalah tanah jua.
06 Februari 2013
Pidato Anis Matta: Pemenangan Pemilukada Jabar 2013
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga transkrip taujih Anis Matta yang disampaikan pada Ahad (3/2) di Bandung pada acara Konsolidasi Kader dan Struktur PKS Jawa Barat. Berikut transkrip taujih Presiden PKS ini:
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(“Aku” Chairil Anwar)
Ikhwah fillah, jika diumpamakan kita adalah anak kecil yang jatuh ke dalam sumur, disiarkan secara live oleh berbagai media dan ditonton oleh seluruh manusia, jangan memikirkan apa yang ada dalam benak orang yang menonton kita. Berpikirlah untuk berusaha naik.. look inside, jangan merasa malu, jangan merasa bersalah, jangan merasa tidak berdaya. Karena musuh terbesar kita adalah perasaan tidak berdaya itu.
Itulah mengapa Nabi SAW mengajarkan pada kita doa di tiap pagi, “Allahumma inni a ‘udzubika minal ‘ajzi wal kasl…..”
Jika kita terus berusaha untuk keluar sumur, maka yakinlah orang-orang yang semula menonton itu tidak akan lagi berpikir mengapa Antum berada dalam sumur, tetapi mereka akan bergabung bersama Antum untuk mengeluarkan Antum dari sana. Kita harus tunjukkan pada bangsa ini bahwa kita adalah partai yang cepat belajar, bisa segera sadar jika ada kesalahan, juga pintar dalam recovery.
Dalam perang Uhud 70 sahabat syahid, bukan karena kehebatan musuh, tetapi karena keteledoran pasukan pemanah. Tetapi Rasul tidak menegur mereka saat mereka melakukan kesalahan. Tiga hari setelah itu, Nabi kirim pasukan ke qabilah-qabilah di sekitar Madinah yang sudah menunjukkan gejala melepas diri dari Madinah karena mereka berpikir Madinah sudah lemah, sudah habis. Tapi Nabi tidak mau memberi ruang dan waktu bagi mereka untuk berpikir melepaskan diri.
Satu-satunya cara untuk menghilangkan musibah dalam pikiran kita adalah dengan melupakannya. Kita tidak punya waktu untuk dikasihani. Jangan sampai energi kita habis hanya untuk menyesali diri.. Salurkan energi kita untuk perbaharui diri, sekaranglah waktunya kita untuk naik….
Sekaranglah waktunya kita untuk naik….
Sekaranglah waktunya kita untuk naik….
Sekaranglah waktunya kita untuk naik….
Sekaranglah waktunya kita untuk naik….
Sekaranglah waktunya kita untuk naik….
Sekaranglah waktunya kita untuk naik….
Allahu akbar!!!
Redaktur: Samin Barkah
Sumber: www.dakwatuna.com
Langganan:
Postingan (Atom)